
USA- INDONESIA (INTERNASIONAL), JAYAKARTA POS - Pada April 2026, Presiden AS Donald Trump terlibat perselisihan terbuka dengan Paus Leo XIV terkait perang di Iran, di mana Trump menyebut Paus "Lemah" dan "Terlalu Liberal", sementara Paus mengecam arogansi kekuasaan yang memicu konflik. Ketegangan memanas dengan penggunaan gambar AI oleh Trump dan kekhawatiran umat Katolik.
Hubungan antara pemerintahan Donald Trump dan Vatikan memanas pada April-Mei 2026 akibat perbedaan tajam mengenai kebijakan luar negeri, khususnya konflik Iran dan isu imigrasi. Paus Leo XIV mengkritik perang dan menuntut perdamaian, sementara Trump menyindir Paus sebagai pihak yang lemah dalam kebijakan luar negeri dan keamanan.
Paus Leo XIV mengecam keras seruan perang dan ancaman Trump terkait Iran, menekankan perdamaian.
Trump membalas dengan menegaskan bahwa, "Mencegah Iran memiliki senjata nuklir adalah tujuan utama. "Saya tidak menginginkan seorang Paus yang menganggap wajar jika Iran memiliki senjata nuklir," tulis Trump. Dimana kemudian menuding Paus membiarkan ancaman nuklir.
"“Saya lebih menyukai saudaranya, Louis, daripada dia, karena Louis sepenuhnya pendukung "Make America Great Again"(MAGA),” klaim Trump. “Dia mengerti, dan Leo tidak!”
"Saya tidak menginginkan seorang Paus yang berpikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki Senjata Nuklir,” lanjutnya. “Saya tidak menginginkan seorang Paus yang menganggap mengerikan bahwa Amerika menyerang Venezuela, sebuah negara yang mengirimkan sejumlah besar narkoba ke Amerika Serikat dan, yang lebih buruk lagi, mengosongkan penjara mereka, termasuk para pembunuh, pengedar narkoba, dan penjahat, ke negara kita."
“Dan saya tidak menginginkan seorang Paus yang mengkritik Presiden Amerika Serikat karena saya melakukan persis apa yang saya dipilih, DALAM KEMENANGAN TELAK,” tambah Trump, mengklaim bahwa Paus Leo “Tidak akan berada di Vatikan” jika ia bukan presiden.
Dalam Isu Imigrasi Paus Leo XIV secara vokal membela migran dan pengungsi, menyebut mereka "Pembawa pesan harapan," yang bertentangan dengan kebijakan deportasi ketat pemerintahan Trump.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak berdamai dengan Paus Leo XIV meskipun banyak pendukungnya kecewa. Ia menyatakan tidak akan meminta maaf atas serangannya kepada pemimpin Gereja Katolik itu.
Klaim Donald Trump Sebagai "Mesias"
Disinyalir ingin menyaingi pengaruh dan kekuatan spiritual Paus Leo XIV. Donald Trump kemudian memicu kontroversi luas kembali dengan mengunggah gambar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya menyerupai Yesus di Truth Social pada Minggu, 12 April 2026.
Foto tersebut menampilkan Trump berjubah putih dengan tangan di atas kepala seseorang, memicu kecaman, bahkan dari pendukung konservatif religius, sebelum akhirnya dihapus. Dimana dalam unggahab tersebut Trump memposting gambar yang menggambarkan dirinya bersanding dengan Yesus, yang ditafsirkan banyak pihak sebagai upaya memposisikan diri secara spiritual atau bahkan mesianik.
Namun Trump membela diri dengan unggahan di Truth Social yang menampilkannya seperti sosok suci Kristen yaitu Yesus Kristus (Yeshua Hamasiah) Tuhan sembahan Umat Keristen.Meskipun publik melihatnya sebagai Yesus, Nnamun Trump mengklaim bahwa gambar tersebut menggambarkan dirinya sebagai "Dokter" atau "Pekerja Palang Merah" yang didukungnya, merujuk pada upayanya membuat orang lebih baik. Unggahan yang banyak dikecam itu akhirnya dihapus pada Senin (13/4/2026) waktu Washington atau Selasa waktu Jakarta.
Unggahan tersebut memicu kritik keras karena dianggap menyinggung simbol keagamaan dan bentuk penistaan. Postingan tersebut diunggah Presiden AS Donald Trump pada 12 April 2026, hanya beberapa jam setelah Trump menyerang Paus Leo XIV melalui media sosial, menyebut Paus "Lemah" dalam kebijakan luar negeri.Donald Trump menghapus unggahan tersebut sehari kemudian (13 April 2026).
Banyak pihak, termasuk kelompok konservatif religius dan pendukungnya sendiri, menilai gambar tersebut sebagai bentuk penghinaan (blasphemy) terhadap Yesus Kristus atau Yeshua Hamasiah selaku Tuhan Sembahan mereka dan merasa Trump bertindak terlalu jauh dengan menggunakan simbol agama untuk kepentingan politik.
Beberapa pengamat menilai ini adalah bagian dari gaya kepemimpinan political messianism (mesianisme politik) di mana Trump ingin dilihat sebagai penyelamat atau mengklaim dirinya sbagai "Mesias".Meskipun Trump mengklaim gambar itu adalah dirinya sebagai dokter, banyak pihak menafsirkan unggahan tersebut sebagai upaya penyandingan diri dengan figur Yesus Kristus atau Yeshua Hamasiah, terutama mengingat konteks serangan sebelumnya terhadap otoritas keagamaan tertinggi (Paus-Red).
Perseteruan antara Presiden AS Donald Trump dan Paus Leo XIV pada April 2026 memicu reaksi luas dari berbagai tokoh global, mencerminkan polarisasi antara pendekatan kebijakan luar negeri yang agresif dan seruan kemanusiaan.
Sejumlah pemimpin dunia menyoroti dan mengecam penghinaan Trump terhadap Paus Leo XIV, khususnya terkait agresi terhadap Iran.
Para pemimpin gereja dan tokoh-tokoh kemanusiaan mendukung seruan Paus Leo XIV untuk perdamaian, yang dinilai perlu berakar pada pesan Injil di tengah konflik dan eksploitasi lahan.
Beberapa tokoh global dan pemimpin negara menyatakan dukungan kepada Paus Leo XIV setelah mendapat kritik tajam dari Donald Trump terkait isu perdamaian di Iran.
Tokoh-tokoh yang membela Paus Leo XIV Versus Trump diantaranya adalah"
Giorgia Meloni (Perdana Menteri Italia). Secara tegas menyatakan dukungan kepada Paus Leo XIV, bahkan dilaporkan sempat menegur Trump karena menyerang Paus.
"Paus adalah kepala Gereja Katolik, dan adalah hal yang benar dan wajar baginya untuk menyerukan perdamaian dan mengutuk setiap bentuk perang," kata Meloni dalam sebuah pernyataan.(17/4/2026).
Meloni, yang beragama Katolik dan memimpin pemerintahan koalisi sayap kanan, adalah sekutu dekat Trump dan sejauh ini enggan mengutuk kritik keras presiden AS terhadap Paus Leo.
Masoud Pezeshkian (Presiden Iran). Membela Paus dan mengecam penghinaan Trump sebagai tindakan yang tidak bisa diterima.Pezeshkian menilai pernyataan Trump keliru karena menggambarkan pemimpin Gereja Katolik Roma tersebut sebagai pihak yang mendukung Iran memiliki senjata nuklir.
“Saya mengutuk penghinaan terhadap Yang Mulia atas nama bangsa Iran yang agung, dan menyatakan bahwa penodaan terhadap Yesus, nabi perdamaian dan persaudaraan, tidak dapat diterima oleh siapa pun yang merdeka,” ujar Pezeshkian dalam pernyataannya di platform X.
Ia juga menambahkan, “Saya mendoakan kemuliaan bagi Anda demi Allah,” ujarnya.
Sedangkan Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei turut mengecam komentar Trump terhadap Paus.
Ia menyebut tindakan tersebut bukan hanya “Tidak Kristiani”, tetapi juga sebagai “Serangan terang-terangan terhadap advokasi yang bertanggung jawab untuk perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan," tandasnya.
Sementara Pedro Sánchez (Perdana Menteri Spanyol).Turut serta menyatakan dukungan kepada Paus Leo XIV.
Sanchez menyatakan bahwa," Sementara sebagian pihak "Menabur Benih Perang," Paus Leo XIV "Menabur benih perdamaian dengan keberanian dan ketegasan".
Uskup Agung Paul S. Coakley (Presiden Konferensi Uskup Katolik AS). Mengecam komentar meremehkan dari Trump dan menegaskan bahwa,
"Paus bukan seorang politikus, melainkan Wakil Kristus," tegasnya.
Pendeta James Martin (Yesuit & Penulis AS). Membela Paus di media sosial dan mengkritik tindakan Trump.
"Perselisihan ini berakar pada kritik Paus terhadap kebijakan perang AS di Iran, yang dianggap Trump terlalu liberal dan tidak mendukung keamanannya," ujarnya.
Paus Leo XIV sendiri menegaskan tidak takut pada pemerintahan Trump dan akan terus menyuarakan perdamaian.
Sementara dukungan untuk Donald Trump dalam mengkritik ke Paus diantaranya adalah:
Wakil Presiden AS, JD Vance, yang menyatakan bahwa, "Paus Leo XIV seharusnya lebih berhati-hati saat berbicara mengenai isu teologi, terutama ketika bersinggungan dengan kebijakan luar negeri AS," katanya.
Pendukung Trump di Nevada dan Arizona, misalnya, berpandangan bahwa Paus Leo XIV seharusnya tidak ikut campur dalam kebijakan luar negeri Trump. Kelompok Kristen Evangelis, yang merupakan basis pendukung kuat, tetap setia mendukung Trump.
Christopher Brandlin lahir sebagai seorang Katolik, dibesarkan sebagai seorang Katolik, bersekolah di sekolah Katolik, dan mengenakan salib bertema bendera di atas dasi bertema benderanya saat Presiden Donald Trump hadir pada hari Kamis di Las Vegas.
Namun dalam perselisihan antara Trump dan Paus Leo XIV mengenai perang Iran, Brandlin percaya bahwa Pauslah, bukan presiden, yang salah.
Paus Leo "sebenarnya menggunakan politik lebih dari yang seharusnya," kata Brandlin, seorang kandidat Partai Republik untuk kursi Majelis Negara Bagian Nevada, dalam sebuah wawancara.(19/4/2026).
Dalam wawancara dengan lebih dari 20 pendukung Trump yang menghadiri acaranya di Las Vegas dan rapat umum kampanyenya pada hari Jumat di sebuah gereja besar di Phoenix, hampir tidak ada petunjuk tentang loyalitas yang terpecah.
Jim Brizeno, 71 tahun, seorang Katolik yang hadir dalam diskusi meja bundar Trump tentang ekonomi di Las Vegas, menegur Paus untuk "Tetap pada jalurmu!", tandasnya.
Dengan mengenakan topi bertuliskan “Trump 45-47-48,” yang mengacu pada masa lalu Trump, masa kini, dan masa depan Trump yang dilarang secara konstitusional.
Brizeno mengatakan bahwa, 'Trump memiliki hak untuk membela diri dan membela tindakannya terhadap teguran Paus," ungkapnya.
DonaldTrump Klaim : “Akulah Sang Terpilih"
Menanggapi perseteruan Presiden AS dengan Paus Vatikan terkait cara pandang masing-masing terhadap perang AS - Iran yang membuat ketegangan semakin meningkat tajam dan melebar luas secara global dari dampak kegaduhan yang ditimbulkan oleh keduanya.Head of Research and Development Division of the Central Executive Board of the International Journalists Association (ASWIN), Irwan Awaluddin.
"Kemungkinan ada dua sisi pandang berbeda dalam keyakinan yang sama dari keduanya berdasarkan kitab Bible yang menjadi acuan bagi umat Keristen dalam memahami konteks ucapan Yesus Kristus didalam Bible Perjanjian Baru, sementara Paus Leo XIV berpagang pada kitab Matius 22:37-39, Yesus bersabda: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang utama dan pertama. Dan perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”. Sedangkan Donald Trump diduga lebih cenderung dengan ucapan Yesus Kristus yang menegaskan terkait keberadaannya didunia dalam sabdanya menyatakan bahwa, ”Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang!". Matius 10:34. sehingga ada kontradiksi didalam pandangan masing-masing terhadap perang Iran," tuturnya, pada Jum'at (8/5/2026) saat diminta tanggapannya oleh Awak Media di Kantornya.
"Namun bila ditinjau dalam kondisi umum memang Presiden AS terkesan berprilaku keras dan terlihat tak mau kalah jadi terkesan kurang bimbingan atau momongan bisa juga salah asuhan sehingga tak menghormati pimpinan agama bahkan cenderung memojokan, untuk itu kami menyebutnya Donald "Koplak" Trump atau Donald "ODGJ" Trump dan terbukti ditegur Paus selaku pimpinan agama tertinggi di ke Keristenan saja masih melawan dan menyerang balik dengan melecehkan pimpinan gereja yang tertinggi dan bahkan demi ambisinya mengalahkan argumentasi dan Eksistensi sang Paus. Presiden AS ke 47 berdasarkan unggahan gambar AI yang diunggahnya sendiri mengklaim sebagai "Mesias". Diduga Donald "Koplak" Trump berkeinginan menggeser? mengganti Posisi/Jabatan Yesus Kristus (Yeshua Hamasiach) atau menjadi seperti Yesus Kristus (Yeshua Hamasiach) itu sendiri," beber Irwan.
"Hal seperti itu sudah tidak asing lagi bagi Donald Trump sebab dia memiliki pola pikir sebagai "Mesias Amerika", ada kurang lebih empat kali mpat kali Trump menampilkan dirinya sebagai penyelamat, pilihan Tuhan, atau raja segala raja.
1. Berdiri di atas panggung di Cleveland pada tahun 2016 di Konvensi Nasional Partai Republik untuk menerima nominasinya sebagai kandidat presiden dari Partai Republik, Trump mengucapkan apa yang kemudian menjadi salah satu klaim khasnya: “Tidak ada yang lebih memahami sistem ini selain saya, itulah sebabnya hanya saya yang bisa memperbaikinya.” Yang paling mengejutkan dari klaim seperti itu dalam politik kita adalah bahwa Trump meminta rakyat Amerika untuk mempercayainya di atas siapa pun—bukan satu sama lain, bukan Tuhan, bukan kekuatan kebaikan atau belas kasihan atau keramahan, tetapi sosok tunggal.
2. Pada tahun 2019, ketika Trump berada dalam putaran pertama perang dagangnya dengan China, presiden mengatakan bahwa seseorang harus “menghadapi” China, dan bahwa dialah orang yang terpilih untuk melakukannya. Selama pidatonya, ia menatap ke langit dan menyatakan, “Akulah sang terpilih.” Meskipun kemudian ia mencoba untuk meremehkan pernyataan tersebut dengan caranya yang khas, komentar tersebut mengungkapkan bahwa ia percaya bahwa Tuhan telah memilihnya sebagai orang istimewa yang ditakdirkan.
3.Presiden Trump telah menggambarkan kemenangan pemilu terbarunya sebagai tindakan penyelamatan. Berbicara pada Desember 2025, ia menggambarkan kemenangannya dengan cara berikut: “Tetapi tepat lebih dari 1 tahun yang lalu hari ini, dengan bantuan Anda, kami menyelamatkan Amerika. Itulah yang terjadi. Kami menyelamatkannya. Kemenangan pemilihan paling penting mungkin dalam sejarah negara kita. Negara kita sedang menuju kehancuran. Kita adalah negara yang dicemooh, ditertawakan di seluruh dunia.” Jika dikaitkan dengan rapat umum “Selamatkan Amerika” pada 6 Januari 2021 dan janjinya untuk mencari “pembalasan” selama masa jabatan keduanya, kita dapat melihat bahwa Trump tidak hanya menganggap dirinya sebagai seorang politisi, tetapi juga penyelamat negara (Mesias).
Dan sekali lagi, bagi mereka yang mungkin terkejut dengan Trump yang menampilkan citra dirinya sebagai Tabib Agung (Markus 2:17; Lukas 5:31), ini bukanlah hal baru. Perhatikan bagaimana Trump berbicara tentang dirinya sendiri dalam bukunya tahun 1987, The Art of the Deal:
“Kunci utama cara saya mempromosikan adalah keberanian. Saya bermain dengan fantasi orang. Orang mungkin tidak selalu berpikir besar sendiri, tetapi mereka bisa sangat bersemangat oleh orang-orang yang berpikir besar. Itulah mengapa sedikit hiperbola tidak pernah merugikan. Orang ingin percaya bahwa sesuatu adalah yang terbesar, terhebat, dan paling spektakuler.”
(JLambretta) JP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar